October 5, 2022
Real Betis

Sejarah Real Betis, berikut ini ialah artikel mengenai Sejarah Real Betis. Berdiri pada 12 September 1907 (usia yang tidak sebentar tentunya) bersama dengan nama lengkap Real Betis Balompie, mempunyai beberapa julukan unik diantaranya Verdiblancos dan terhitung Beticos del Universo. Klub yang selagi ini diketuai oleh Miguel Guillen itu duduki stadion kebanggaan Estadio Benito Villamarín Sevilla, Andalusia, Spanyol bersama dengan kapasitas daya tampung kurang lebihnya 56.432 jiwa. Lihat juga Sejarah AS ROMA. Berbasis di Sevilla, ternyata Real Betis merupakan tim pertama berasal dari Andalusia yang bermain di La Liga. Namun tidak hanya itu saja rekor yang dulu diukir, selain itu terhitung tim Andalusia pertama yang dapat menjuarai Copa del Rey, La Liga dan bermain di Piala Champions. Catatan rekor yang tidak kalah menarik bersama dengan Biodata Klub Spanyol Villarreal CF berasal dari penulis sebelumnya dunk.

Presiden pertama berasal dari klub adalah Juan del Castillo Ochoa dan kapten kesebelasan pertama yang terhitung merangkap sebagai pelatih pada tahun 1914, adalah Manuel Ramos Asencio. Pada tahun-tahun awal klub ini mengalami beberapa kali perubahan markas berasal dari calle Alfonso XII (1907-1909), ke Federico de Castro (1910-1911) dan lantas ke Jerónimo Hernández (1912-1914).

Nama kesebelasan yang dipilih oleh anak-anak muda ini melukiskan inspirasi mereka yang inginkan menentang efek sepak bola Inggris: “Sevilla BALOMPIÉ” (setelah sebelumnya bernama, “España Balompié”). Klub ini terdaftar secara formal sebagai statu organisasi pada tanggal 1 Februari 1909. Tidak lama sehabis itu, “Balompié” berhasil menjadi tim pertama yang menjuarai Piala Sevilla pada tahun 1910, dan merupakan juara bertahan hingga tahun 1913. Tim ini terhitung berpartisipasi persaingan Piala Andalusia yang diawali pada tahun 1910 dan diundang untuk ikuti Piala Spanyol, tetapi berhalangan gara-gara keterbatasan dana. Pada tahun 1909 berdiri Betis Foot-ball Club, yang merupakan pecahan berasal dari Sevilla Foot-ball Club.Pada tahun 1914 tim Balompié kembali mencapai gelar Juara Sevilla dan membuat perubahan namanya berasal dari “Sevilla Balompié” menjadi “Real Betis Balompié”, sehabis bergabung bersama dengan Betis Foot-ball Club, yang secara resma udah mendapat gelar nama “Real” berasal dari kerajaan Spanyol; Seperti udah disebutkan, Betis Foot-ball Club yang berdiri pada tahun 1909 udah dibubarkan pada tahun 1913 dan dibentuk kembali pada tahun berikutnya oleh keluarga Borbolla, dan mendapat gelar kehormatan berasal dari Raja Spanyol, Alfonso XIII.

Sejarah Real Betis Liga Spanyol

Pada tanggal 6 Desember 1914, dewan pimpinan Sevilla Balompié, dan dua hari kemudian, dewan pimpinan Betis Foot-ball Club, menyetujui penggabungan kedua klub.Pada bulan Agustus 1915, Gubernur Sevilla, Severo Núñez, membuka status dan perubahan nama klub, berasal dari “Sevilla” Balompié menjadi “Real Betis” Balompié. Di luar persoalan hukum, berasal dari aspek teknis, penggabungan ini terhitung artinya perubahan bagi para pemain dan gelar-gelar juara yang udah diraih klub Balompié. Lapangan bermain yang mula-mula berada di El Campo de las Tablas Verdes berubah ke Prado de San Sebastián. Betis FC menyumbangkan gelar “Real” untuk penggabungan ini. Sampai tahun 1930-an, klub baru sebagai hasil penggabungan Sevilla Balompié dan Betis Foot-Ball Club ini, selalu terkenal bersama dengan nama “el Balompié” bersama dengan pendukungnya yang disebut “los balompedistas” . Baru pada periode tahun empat pululan namanya populernya beralih menjadi “Betis” bersama dengan pendukungnya disebut “béticos”, hingga selagi ini. Sebagian bekas pendukung Betis Foot-ball Club yang tidak menyetujui penggabungan ini, bersama dengan dimotori oleh Antonio Gutiérrez y Rafael García de la Borbolla, coba mendirikan kembali Betis Foot-ball Club pada 1915. Walaupun demikin klub ini tidak bertahan lama dan bubar beberapa tahun kemudian.

Setelah menjadi Juara Sevilla pada 1915, Balompié memulai era crisis yang lebih-lebih disebabkan oleh kurangnya dana untuk pelihara para pemain pada era yang disebut sebagai “amateurismo marrón”, profesionalisme terselubung. Belasan pemain hijrah ke klub rival pada era tersebut.Pada tahun 1924, berkat kembalinya para pendiri klub ke di dalam dewan direksi (Castillo, Wesolousky, Hermosa, Fernández Zúñiga, Cascales,…), prestasi Balompié kembali menanjak bersama dengan menjuarai Piala Spencer pada tahun 1926 dan, sehabis berulang kali menjadi runner-up, pada tahun 1928 dapat menjuarai Piala Andalucia.

See also  Sejarah Arema FC

Sejarah Real Betis Liga Spanyol

Akhir tahun 1920-an dibentuklah untuk pertama kalinya Liga nasional sepak bola Spanyol. Pada selagi itu, Real Betis Balompié udah merupakan suatu klub sepak bola yang lumayan teroganisir, baik berasal dari aspek olah raga, sosial, maupun kelembagaan. Real Betis Balompié memulai petualangannya di liga nasional Spanyol pada tanggal 17 Februari 1929 bersama dengan berpartisipasi di persaingan Divisi II bersama dengan harapan untuk bermain di Divisi I dikemudian hari. Periode 1930-an ditandai bersama dengan berubahnya terminologi terkenal “Balompié” dan “balompedistas” menjadi “Betis” dan “béticos”. Masa selanjutnya bagi Betis Balompié, era terjaya di sepanjang sejarahnya. Dalam selagi kurang berasal dari 10 bulan, Betis udah berhasil menjadi tim pertama berasal dari Spanyol selatan yang mencapai babak final berasal dari PIala Spanyol dan merayakan kembali tahunnya yang ke-25 pada tanggal 3 April 1932, bersama dengan mencapai gelar juara Divisi II. Dengan gelar tersebut, Betis Balompié – tanpa gelar “Real” pada era pemerintahan Republik kedua di Spanyol – menjadi klub Andalusia pertama yang masuk ke Divisi I Spanyol.

Di bawah pimpinan Patrick O´Connell, pada musim persaingan 1934-1935, Betis Balompié berhasil menjadi Juara Liga Divisi I. Para pemain selagi itu di antaranya adalah: Urquiaga, Areso, Aedo, Peral, Gómez, Larrinoa, Adolfo, Lecue, Unamuno, Timimi, Saro, Caballero, Rancel, Valera dan Espinosa. Tim ini merupakan gabungan berasal dari enam pemain berasal dari tempat Basque di utara Spanyol, tiga pemain berasal dari kepulauan Canaria, tiga pemain berasal berasal dari kota Sevilla dan satu pemain berasal berasal dari kota Almeria, tetapi besar di Barcelona. Tanggal 28 april 1935 merupakan hari paling bersejarah berasal dari tim berkostum hijau putih ini: Betis menaklukan Santander 5-0 dan mencapai juara Liga. Hari selanjutnya jatuh seiring bersama dengan hari Sabtu berasal dari pesta tahunan rakyat di Sevilla menyambut musim semi (Feria) di mana kemenangan Betis dirayakan di tenda-tenda Feria secara meriah. Betis mengalami kejatuhan pada tahun berikutnya. Tahun itu ditandai bersama dengan “dipretelinya tim juara” Betis. Hal ini tidak hanya disebabkan oleh krisis ekonomi yang dialami oleh klub Betis yang mengharuskan dijualnya tiga orang pemain, tetapi terhitung disebabkan oleh keluarnya empat orang pemain yang gara-gara pecahnya Perang Saudara di Spanyol kudu maju ke medan perang atau terhalang untuk kembali ke Sevilla. Hanya dua pemain, Peral dan Saro, yang tersisa berasal dari kesebelasan yang 15 bulan sebelumnya berhasil mencapai juara Liga Divisi I.

Perang Saudara di Spanyol berdampak negatif untuk Betis. Betis menyebabkan kesalahan bersama dengan terjun beradu pada tahun 1939-1940, dikala banyak klub menentukan untuk tidak beradu bersama dengan alasan perang.Dampak paling kritis terjadi pada 28 april 1940, tepat 5 tahun sehabis mencapai gelar juara liga. Klub hijau putih selanjutnya turun ke Divisi II. Dua tahun kemudian, Betis berhasil naik kembali ke Divisi I, untuk turun kembali ke Divisi II pada tahun 1943. Puncak kejatuhan Betis terjadi di Santander pada tanggal 13 April 1947, selagi ditaklukkan 1-4 oleh Racing Santander yang memaksa Betis untuk turun ke Divisi III.Sulit untuk paham dan paham Betis tanpa paham apa yang terjadi sepanjang 7 tahun keberadaan klub ini di Divisi III. Karena sejak selagi itulah, klub ini, dan terhitung para pendukungnya, punyai suatu pembawaan tersendiri yang hingga selagi ini menjadi ciri khas Betis. Ciri khas inilah yang seakan menjadi “jiwa” berasal dari klub Betis yang pada tahun lima puluhan tercermin di dalam suatu semboyan yang menyebabkan simpati di segala penjuru Spanyol: “¡Viva er Beti manque pierda!”. Penyair Joaquín Romero Murube melukiskan suasana zaman itu dan semboyan di atas bersama dengan kalimat berikut: “Klub Betis punyai kemampuan mental tersendiri yang dibangun lewat kekalahan-kekalahan yang dideritanya… tetapi jauh berasal dari menyerah pada nasib tidak baik yang menimpa, Betis tambah hadapi tiap-tiap pertandingan bersama dengan motivasi yang makin tinggi demi tercapainya kejayaan”.

See also  Sejarah Keberhasilan Leicester City

Betis berhasil melampaui periode selanjutnya atas pemberian para suporternya. Pada tahun 1954, Betis berhasil kembali ke Divisi II. Pada selagi itu, Betis sangat terkenal bersama dengan para pendukungnya yang selalu mencukupi stadion di tiap-tiap pertandingan di kandang dan bersama dengan “barisan hijau”-nya yang selalu menyertai kesebelasan Betis di tiap-tiap pertandingan tandang. Masa-masa krisis ekonomi yang udah dilampaui dan pengalaman pahit bermain di Divisi III makin menguatkan Betis dan menambah satu kembali ciri khas berasal dari klub selanjutnya bersama dengan menjadi “satu-satunya klub di Spanyol yang dulu menjadi juara Divisi I, II, dan III”. Estela kembali ke Divisi II pada tahun 1954, Betis kudu menanti 5 tahun sebelum berhasil menembus Divisi I, tepatnya pada tanggal 1 Juni 1958Betis memulai kembali debutnya di Divisi I bersama dengan kemenangan 4-2.Antara tahun 1959 dan 1964, Betis mengalami era kejayaan yang ditandai bersama dengan kesuksesan mencapai peringkat ketiga Liga Divisi I, mencapai gelar juara Piala Carranza dan keikutsertaan di Piala Ferias.

Hanya berselang setahun kemudian, Betis kehilangan presidennya Benito Villamarín yang udah memimpinnya sepanjang 10 tahun, kehilangan Andrés Aranda dan turun ke Divisi II. Hal ini melukiskan bagaimana Betis tidak dapat melewatkan diri berasal dari ciri khas “manque pierda!”. “Eurobetis yang pertama beralih hanya di dalam setahun menjadi Currobetis”. Ungkapan ini melukiskan bagaimana klub ini punyai pembawaan yang mirip bersama dengan torrero (matador) legendaris Curro Romero yang dapat tampil luar biasa gemilang tetapi tidak lama berselang dapat tampil gagal total.

Naik turunnya Betis hingga tahun 1974 antara Divisi II dan Divisi I, menyebabkan klub ini sempat dijuluki sebagai “kesebelasan lift”.Pada tanggal 25 Juni 1977 Betis berhasil mencapai gelar juara Piala Raja Spanyol di stadion Estadio Vicente Calderón di Madrid sehabis memenangi pertandingan final yang diwarnai bersama dengan 21 tendangan penalti. Di bawah pimpinan Rafael Iriondo, Esnaola, Bizcocho, Biosca, Sabaté, Cobo, López, Alabanda, Cardeñosa, García Soriano, Megido, Benítez, Eulate dan Del Pozo, tertulislah suatu bab yang paling mengesankan di dalam sejarahnya.

Betis, yang pada era lampau adalah juara Divisi I Spanyol dua tahun sebelum pecahnya perang saudara (1935), berhasil menjadi klub pertama yang mencapai gelar juara Spanyol sehabis berakhirnya era keditaktoran (Franco) bersama dengan merebut Piala Raja pada tahun (1977) tersebut. Dengan gelar tersebut, Betis seakan menutup lembaran histori era diktatur di negara Spanyol yang kebetulan terhitung merupakan era suram bagi klub tersebut. Pada tahun yang sama, Betis berhasil mencapai babak perempat final Piala Eropa sebelum pada akhirnya ditaklukkan Milán. Seakan setia bersama dengan tradisinya, pada akhir musim persaingan tahun tersebut, Betis kembali turun ke Divisi II Liga Spanyol.

Kembalinya Betis ke Divisi I pada tahun 1979, ditandai bersama dengan beberapa kesuksesan dan bersama dengan partisipasi di persaingan Eropa: klasifikasi Piala UEFA tahun 1982 dan 1984, perayaan pesta tahun platinum (75 tahun) pada tahun 1982 dan kesuksesan mencapai posisi kedua Divisi I pada tahun 1986. Masa selanjutnya merupakan tidak benar satu era emas bagi klub hijau putih dan para pendukungnya, ditambah bersama dengan terpilihnya stadion Betis sebagai stadion yang dipakai untuk pertandingan antara Spanyol melawan Malta pada piala dunia di Spanyol (1982). Namun, antara 1986 hingga 1992, Betis kembali mengalami era krisis ekonomi dan kembalimenjadi “kesebelasan lift” yang naik turun antara Divisi I dan II hingga turunnya ke Divisi II pada tahun 1991. Masa selanjutnya merupakan era tersulit bagi Betis, ditambah kembali bersama dengan kewajiban untuk menjadi perseroan terbatas di bidang olah (sociedad anónima deportiva) yang dikenakan pada semua klub oleh penyelenggara liga. Oleh “program penyehatan” Liga, Real Betis Balompié – pada selagi itu bermain di Divisi II – diwajibkan untuk punyai modal sebesar nyaris 1.200 juta pesetas; dua kali lipat kuantitas modal yang kudu dimiliki oleh tiap-tiap klub Divisi I dan II.

See also  Sejarah Real Madrid

Dalam selagi kira-kira 3 bulan, para “beticos” berhasil menyatukan dana sebesar 400 juta pesetas. Walau kuantitas ini mencapai kira-kira 60% hingga 100% berasal dari keseluruhan modal yang kudu dimiliki klub-klub lainnya, kuantitas dana selanjutnya belumlah lumayan untuk mencapai target yang diwajibkan. Selain dana sebesar 400 juta pesetas tersebut, terhimpun terhitung dana yang terdiri berasal dari 100 saham. Meskipun demikianlah tetap dibutuhkan dana kira-kira 680 juta untuk mencapai target yang diwajibkan.

Pada tanggal 30 Juni, wakil presiden untuk urusan ekonomi Manuel Ruiz de Lopera menjadi penjamin atas kuantitas sisa modal yang dibutuhkan dan menjadi pemegang saham terbesar berasal dari perseroan.Pada 15 tahun terakhir, lebih-lebih pada periode tahun 1995 hingga 2005, sebanyak tiga kali Betis berhasil duduki peringkat empat besar berasal dari persaingan Divisi I, dan menjadi hanya satu klub berasal dari Andalusia yang melaksanakan hal selanjutnya sejak 1970. Betis bermain di tiga final: dua Piala Raja Spanyol, dan satu Piala Super Spanyol, memenangkan satu gelar diantaranya, satu kali berpartisipasi di Liga Champions dan empat kali berpartisipasi di Piala UEFA. Naiknya kembali Betis ke Divisi I pada tahun 1994 langsung disusul bersama dengan kesuksesan Betis duduki peringkat ketiga di Divisi selanjutnya pada musim persaingan berikutnya. Pada musim persaingan 1996-1997 Betis kembali duduki posisi empat besar dan berhasil mencapai final Piala Raja Spanyol sebelum ditundukkan FC Barcelona pada pertandingan final yang diwarnai bersama dengan perpanjangan waktu.

Setelah final, Betis sempat mengalami era ketidakstabilan dan turun ke Divisi II pada tahun 2000. Kembali ke Divisi I pada tahun berikutnya, Betis langsung duduki posisi 4 besar, menembus Piala UEFA dan berhak bermain di babak awal Liga Champions.Walaupun demikian, barulah pada tahun 2005 Betis mencapai tahun kejayaan yang sesungguhnya: hanya di dalam selagi 34 hari, klub hijau putih berhasil memenangkan pertandingan derbinya (atas Sevilla FC), mencapai babak final Piala Raja Spanyol, menempatkan diri sebagai peringkat ke-4 Divisi I lewat pertandingan seri melawan Real Mallorca, dan memenangkan Piala Raja Spanyol di stadion Vicente Calderón, Madrid.

Dua bulan lantas Betis menjadi klub Andalusia pertama yang bermain di Piala Eropa bersama dengan format Liga Champions, sehabis menaklukan Monaco yang merupakan runner-up Liga Champions sebelumnya di babak penyisihan. Di penyisihan grup, Betis beradu bersama dengan juara liga Champions sebelumnya, Liverpool, dan bersama dengan Chelsea yang merupakan juara liga Inggris.

Sejarah layaknya berulang bagi Betis: tahun emas selalu disusul langsung bersama dengan tahun suram. Betis nyaris terdegradasi ke Divisi II di musim persaingan 2005-2006. Akhir musim persaingan selanjutnya ditandai bersama dengan perpecahan antara Presiden klub dan pelatih, dan krisis kelembagaan yang merupakan puncak berasal dari persoalan internal klub sejak tahun 80an. Musim persaingan 2006-2007 merupakan musim persaingan yang buruk, Betis berhasil hindari degradasi ke Divisi II bersama dengan memenangi pertandingan di hari terakhir persaingan melawan Racing Santander (2-0). Tiga pelatih yang berlainan mengatasi Betis pada musim persaingan ini: Javier Irureta di awal kompetisi, Luis Fernandez yang mengambil alih alih tim di tengah kompetisi, dan Paco Chaparro (pelatih Real Betis B) yang pada akhirnya mengambil alih alih di pertandingan akhir yang menentukan. Pada tahun 2007, Real Betis Balompié merayakan kembali tahunnya yang ke-100. Perayaan di antaranya ditandai bersama dengan peresmian monumen bagi para pendukung Betis pada tanggal 12 September 2007. Perayaan ke 100 tahun Betis tidak disertai bersama dengan prestasi yang memuaskan berasal dari klub. Pelatih Hector Cuper yang mengatasi Betis di awal musim persaingan 2007-2008, hanya dapat mencapai 4 angka berasal dari 11 pertandingan pertamanya.